Sabtu, 08 Januari 2011

CARA REPRODUKSI GETAH TERMAHAL

www.binmuhsingroup.comToko Obat Herbal Online Harga diskon, Toko Buku Kesehatan Islami, Tempat pendaftaran Ujian Paket A B C , Jual Beli Sewa Mesin Foto Copy, Perjalanan Haji dan Umroh, Pesantren Blogger, Klinik Pasutri. Jual Habbatussauda, Madu Habbatussauda, Minyak Zaitun, Fenugreek, Fennel, Bin Muhsin Powder Datse Lollen, dll. UNTUK PEMESANAN HUBUNGI BIN MUHSIN HP: 085227044550 Tlp: 021-91913103 SMS ONLY: 081213143797@MyYM @MyFacebook @MyTwitter @MyYuwie @MyFriendsterbinmuhsin_group@yahoo.co.id


Harga fantastis hingga Rp800.000 per kg itu memang membuat banyak pencari jernang tergiur. Sayangnya, mereka bermain ‘kotor’ untuk memperbesar keuntungan dengan mencampurkan berbagai benda demi meningkatkan bobot. Umumnya, mereka menggunakan damar mata kucing - berasal dari getah meranti putih Shorea javanica. Mata kucing sebagai bahan cat, pernis, dan pelapis batang korek agar tidak cepat terbakar itu berwarna merah, persis getah jernang.

Bahan pencampur lain, berupa serbuk biji, kulit buah jernang, dan bata merah. Akibatnya, pembeli kapok sehingga, ‘Harga anjlok menjadi Rp250.000 - Rp400.000 per kg di tingkat pencari,’ kata Ir Lambok Panjaitan, koordinator program Yayasan Gita Buana - lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang penyadaran lingkungan di Jambi. Hanya produsen yang mampu menjaga mutu yang akan memperoleh harga tertinggi.

Umur 8 - 9 bulan

Darah naga atau getah jernang berkualitas tinggi berasal dari buah matang sempurna, 11 bulan sejak fruitset alias pembentukan buah. Itu berarti, produsen tidak sembarang memetik buah untuk memperoleh getah. ‘Buah mesti menjelang matang alias berumur 8 - 9 bulan,’ kata Drs Yana Sumarna MSi, periset hasil hutan nonkayu di Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Bogor, Jawa Barat. Pada buah terlalu muda, kadar getah belum maksimal. Sebaliknya, pada buah yang terlalu tua, kandungan getah menyusut. Itulah sebabnya, produsen yang mengolah buah muda atau tua, memperoleh sedikit getah.

Untuk memperoleh getah termahal itu, produsen memisahkan getah dari buah jernang. Di Jambi, pencari jernang umumnya berasal dari etnis Melayu Jambi dan etnis Kubu, mereka berjuluk suku Anak Dalam. Kedua etnis itu melakukan ekstraksi kering - prinsipnya memisahkan daging dari buah tanpa pelarut. Bedanya, etnis Kubu menumbuk buah sehingga rendemen meningkat. Sedangkan ekstraksi cara etnis Melayu Jambi cuma menggoyang-goyangkan buah.

Hasil riset Yana pada Agustus - Oktober 2009, etnis Melayu Jambi hanya memperoleh rendemen getah 6,41%; etnis Kubu, 7,42%. Namun, ekstrak hasil etnis Kubu kerap tercampur kotoran dari kulit atau biji yang ikut rontok saat penumbukan. Untuk memetik tandan, pencari jernang menggunakan penyuluk atau galah panjang berujung pengait. Panjang penyuluk menyesuaikan ketinggian tandan jernang yang tumbuh memanjat hingga 20 meter.

Jika penyuluk kurang panjang, ‘Pencari jernang tidak akan ragu menebang tanaman,’ kata Abdul Hadison, direktur Yayasan Gita Buana. Itu menyebabkan populasi jernang liar di hutan kian menyusut. Pencari lantas mengumpulkan tandan buah jernang dalam tapan atau keranjang rotan yang mereka bawa di pinggang. Keranjang rotan memungkinkan sirkulasi udara berjalan baik sehingga tandan jernang sudah kering angin saat pencari jernang bermalam.

Keesokan hari, para pencari itu kembali ke rumah dan memetik buah jernang seukuran bola pingpong dari tandan. Mereka lalu mengumpulkan buah dalam ambung - keranjang rotan yang lebih kecil daripada tapan. Ketika mereka mengguncang-guncangkan ambung sambil sesekali menumbuk, perlahan-lahan getah kemerahan menetes keluar dari sela-sela ambung. Tanpa pengolahan lebih lanjut, mereka menjual getah itu kepada pengepul.

Basah

Selain ekstraksi kering, secara tradisional sebetulnya ada cara lain memperoleh getah, yakni ekstraksi basah. Yana Sumarna melakukan ekstraksi basah dengan 3 jenis pelarut: benzena, metanol, dan heksana. Hasilnya, lulusan Ilmu Kehutanan program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor itu memperoleh rendemen lebih tinggi ketimbang cara kering, masing-masing 9,2%, 9,5%, dan 9,52%. Selain itu, kadar air, abu, dan pengotor lebih rendah daripada cara kering (lihat tabel Mutu Getah). Artinya, hasil ekstrak basah lebih bersih.

Terbukti, ekstrak Yana tetap berbentuk serbuk meski tersimpan lebih dari 1 tahun.Sedangkan ekstrak buatan para pencari di hutan membeku 30 menit usai ekstraksi. ‘Pembekuan itu lantaran pengotor dan air, selain campuran damar,’ kata Yana. Ekstrak serbuk laku dengan harga lebih baik lantaran kualitas hampir pasti terjamin. Getah beku dengan banyak pengotor atau bahan campuran, lebih murah karena pembeli mesti memurnikan kembali dengan proses yang sulit dan mahal. Ada harga, ada rupa.

Meski berasal dari tanahair, getah jernang Daemonorops sp malah sohor di negeri Tiongkok yang menempatkan herbal sama tinggi dengan ilmu medis. Menurut Yana Sumarna, beberapa jenis obat asal Tiongkok yang beredar di tanahair mengandung getah jernang. Artinya, ‘Orang lain mengolah produk kita untuk kita beli kembali,’ kata Yana. Getah buah kerabat rotan itu memang multikhasiat seperti menghentikan pendarahan, mempercepat penyembuhan luka, sampai menghambat kanker lantaran bersifat antioksidan kuat. (Argohartono Arie Raharjo)

artikel ini dicopy dan diedit dari www.trubus-online.co.id

2 komentar:

  1. Hi,

    Do you selling Getah Jernang( Dragon`s Blood ) ? My factory can buy 500kg-2000kg ever month with good price ( Its depends on your product quality ) ; Please contact me anytime ;thanks.

    Best Regards
    Mr.Sean
    +65 81754357
    Kakao Talk ID: HooplaHa
    Skype ID:seanchapter
    Email:seangao61@gmail.com
    CNTIC MEDICAL TRADING CO,.LTD

    BalasHapus
    Balasan
    1. nama saya Diman
      Asal Indonesia. Prov Aceh Kota Subulussalam
      Nomor Handphone +62 085359844300
      Saya adalah seorang pencari Buah Rotan dari Hutan
      saya ada hasil olahan Ekstrak(Pemisahan) Resin (getah)Basah Buah rotan. saya mau jual getah jernang saya kemana saya tuju biar saya bisa menjual getah jernang saya kepada awak

      Hapus